“Harusnya… Saya memberi tausiah di Masjid An-Nazirin,” ujar Ustad HM Hafiz Yazid terbata-bata, sambil berusaha keras menahan air mata yang mulai membasahi kelopak matanya, di ruang Topas 301 RS Permata Bunda, Minggu  (22/4).

Tubuh Ustad Hafiz Yazid tampak lemah, penyakit stroke, gula dan diabetes yang dideritanya membuatnya tak berdaya. Kaki kirinya terlihat bengkak dua kali dari kaki normal biasanya. Namun bukan itu yang membuat mantan guru Ustad Abdul Somad ini bersedih. Melainkan karena ia tak bisa bangkit lagi untuk berdakwah. Baginya jalan  dakwah sudah jadi hal wajib yang dilakukan setiap hari. “Kewajiban berdakwah itu seperti kewajiban menjalankan  shalat bagi saya, harus senantiasa dilakukan,” ujarnya menahan haru.

Selama 20 tahun lebih berdakwah Ustad Hafiz Yazid  memang dikenal sebagai pribadi yang gigih menyampaikan syiar Islam, bahkan di saat kakinya membengkak ia tetap tak mau berhenti berdakwah. Ia kerap dipapah anaknya Abdul Wafi dalam mensyiarkan Islam.

Penyakit diabetes, gula dan stroke menyerangnya sejak  2012. Bahkan ia sudah dua kali mengalami stroke, namun hal itu sama sekali tak melumpuhkan niat besarnya berjihad lewat jalan dakwah. Dalam sehari ia bisa berdakwah di empat masjid. Bahkan sangking menggelora semangatnya ia menggelar pengajian dua kali dalam seminggu di rumahnya yang berada di  Jl. Garu I,

Hanya di malam Jumat waktunya digunakan untuk libur berdakwah. Namun waktu istirahat itu sering dimanfaatkannya pula untuk mempelajari kitab  suci   Alquran.

“Setiap hari usai pulang dakwah Bapak tak langsung istirahat. Ia kerap membaca Al-Quran, hadits dan buku agama lainnya untuk bahan berdakwah,” ujar anak sulungnya Abdul Wafi.

Kegigihan ustad Hafiz Yazid  sudah dilakukannya sejak muda, baginya ajaran Islam mutlak harus diamalkan. Tak ayal pada masa orde baru ceramah ustad Hafidz Yazid pernah dicekal pemerintah karena dianggap membahayakan pemerintahan saat itu. “Kejadian itu waktu di Kisaran sekitar 20 tahun yang lewat Koramil menghentikan ceramah saya, mungkin karena saya terlalu keras meyampaikan dakwah waktu itu, hingga menyinggung pemerintah,” ujar Ustadz Hafiz Yazid.

Sebenarnya bisa saja ia menghentikan aktivitas dakwah dengan beristirahat, namun hal itu urung dilakukan, berdakwah sudah jadi kebutuhan hidup baginya, karenanya bapak dua anak ini merasa hidupnya terasa berbeda, tanpa berdakwah. Terlebih di saat ini godaan syetan semakin berat dilalui para generasi muda. “Banyaknya umat muslim yang menyimpang saat ini, adalah satu alasan saya mengapa ingin terus berdakwah dalam, kondisi apapun,” ucap Ustadz  Hafiz Yazid.

Selain itu, kata Hafiz Yazid saat ini banyak aliran sesat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, banyak sekali tantangan para pendakwah untuk menghadapi godaan zaman yang kian merusak akidah umat. “Karena itu tidak ada alasan bagi para pendakwah untuk tidak terus menyebarkan pelajaran tauhid dan mengajak umat Islam untuk senantiasa berzikir memuji Allah dalam keadaan apapun,” tutup alumni Pesantren Mustafawiyah Purba ini.

BAGIKAN
Berita berikutnyaEksotisme Alama Dari Puncak Sitinjo