MEDAN -: Rekruitman anggota Bawaslu Provinsi Sumatera Utara untuk periode 2018-2023 dimulai. Hal ini disambut baik oleh ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Korwil Sumut, Ferdiansyah Putra saat dimintai keterangan terkait seleksi bawaslu sumut, di Penang Corner Cafe, Medan, (15/5/18).

Menurutnya, tim seleksi harus dapat menghasilkan calon anggota Bawaslu yang beritegritas dan cakap dalam kemampuan kepemiluan.

“Tim seleksi harus bersikap netral dan tidak boleh di intervensi pihak manapun agar integritas dan profesionalitas pengawas pemilu dapat diwujudkan, bagaimana mungkin kalau ada oknum di tim seleksi yang berlaku curang, dapat menghasilkan calon-calon anggota bawaslu yang bagus” katanya.

Hal terpenting menurutnya adalah Tim seleksi wajib terbuka dan transparan terkait hasil keputusan yang diambil atau pengumuman pada setiap tahapannya agar tidak menimbulkan pandangan negatif atau kecurigaan dari kontestan maupun publik.
Saat ini tim seleksi telah mengeluarkan putusan/pengumuman terhadap pemeriksaan dan penilaian berkas persyaratan peserta, dalam konteks ini tim seleksi diharapkan mampu memberikan keterangan dan keterbukaan terhadap hasil pengumuman tersebut. Jangan ada yg di tutup-tutupi karena dapat mencederai proses seleksi ini.

“Sekarang ini era kerterbukaan, jangan lagi ada yg ditutup-tutupi, publik harus tahu proses rekruitmen, karena ada uu informasi keterbukaan publik” terangnya.

Lebih lanjut menurut ketua KIPP sumut ini, hal yang paling mahal adalah menjaga demokrasi agar berjalan dengan baik. Maka dibutuhkan pengawas pemilu yang berkualitas. Oleh sebab itu pengawas pemilu harus lahir dari proses yang sehat dan berkualitas, KIPP Sumut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengawal proses seleksi ini.

“Saya berharap seluruh elemen masyarakat memantau jalannya proses seleksi” pungkasnya.

Diwaktu yang sama, salah seorang pendaftar (nama pelamar kami rahasiakan.Red) mengakui adanya kecurangan yang dilakukan oleh salah satu tim seleksi bernama Maraimbang Daulay.

“Bagaimana mungkin orang yang tidak punya integritas bisa masuk sebagai tim seleksi, Dari awal, tanggal 11 April 2018 Maraimbang Daulay telah melanggar kode etik timsel dengan menyebarkan informasi terkait draf penilayan yang bersifat rahasia kepada orang-orang bawaannya dan itu jauh sebelum pengumuman pendaftaran dimulai, saya punya bukti-buktinya” katanya.

Menurutnya, hal ini sangat tidak baik dan mencoreng integritas tim selekasi secara menyeluruh. Apalagi Maraimbang Daulay adalah salah seorang Dosen dan Pembantu Dekan 3 (PD3) di Fakultas Usuluddin UIN.

“Saya berharap kepada ketua timsel untuk menuntaskan kasus ini, ini persoalan serius karena pertaruhannya adalah integritas anggota Bawaslu kedepan,  sebagi Dosen dan PD 3 di Fakulatas Usuluddin UIN, dia sudah mencoreng nama baik UIN secara keseluruhan. Ini persoalan etittude dan integritas sebagai panutan, saya berharap pihak Dekan maupun Rektor dapat mengambil sikap terhadap saudara Maraimbang Daulay” tukasnya. Cel